https://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/issue/feedJurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan2025-03-07T00:00:00+08:00Sahru Romadlonisahru.romadloni@untag-banyuwangi.ac.idOpen Journal Systems<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Jurnal Pusat Studi Pancasila dan Kebijakan dibentuk sebagai dasar penguatan Ideologi Pancasila di kalangan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi dan masyarakat luas. Jurnal ini dapat menjadi piranti untuk semakin membudayakan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Bukan sekedar agar menghafal Pancasila. Namun diharapkan mampu memberikan kontribusi agar masyarakat memahami Pancasila dan Wawasan Kebangsaan.</span></span></p>https://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/article/view/539The Phenomenon of Sea Fencing in PIK 2 as a Sign of Government's Indecisiveness in Maintaining National Resilience2025-01-17T13:50:05+08:00Ahmad Rizal Roby Anantaahmad.rizal.roby-2024@fh.unair.ac.idDevi Tri Berlian Syahdevitriberliansyah@gmail.comZulfikar Erlanggazulfikarerlangga@gmail.com<p style="font-weight: 400;"><em>The phenomenon of sea fencing in Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) has raised concerns regarding the government's lack of decisiveness in upholding justice, humanity, and unity, which impacts national resilience. This study aims to analyze the relationship between this issue and aspects of maritime security, social justice, and economic stability, as well as to evaluate the government's role in managing coastal areas. The research was conducted in the PIK 2 area, which is part of a controversial National Strategic Project (NSP). The research employs normative legal methods with a conceptual and statutory approach, utilizing data collection techniques such as literature reviews of legal regulations, scientific journals, and international legal documents, including UNCLOS 1982. The findings reveal that the sea fencing in PIK 2, without considering the interests of coastal communities, violates the principles of social justice, exacerbates economic disparities, and threatens national unity. The study also identifies weaknesses in government oversight regarding the implementation of relevant regulations. It concludes that the government must take firm actions to review policies, strengthen oversight, and involve communities in decision-making to ensure that coastal area development aligns with Pancasila values and the goal of preserving national integrity.</em></p> <p><em style="font-weight: 400;">Keyword: Phenomenon, Government, National Resilience</em></p>2025-03-07T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Ahmad Rizal Roby Ananta, Devi Tri Berlian Syah, Zulfikar Erlanggahttps://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/article/view/371Implementasi Nilai - Nilai Pancasila Dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi Dan Disrupsi Sosial2025-02-28T00:35:29+08:00Putri Alisah221610101093@mail.unej.ac.id<p>Globalisasi dan disrupsi sosial menghadirkan tantangan bagi integritas dan ketahanan sosial masyarakat Indonesia, khususnya dalam menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi tantangan globalisasi serta merumuskan strategi penguatan ketahanan sosial dan budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode tinjauan pustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dari jurnal, buku, dan peraturan terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan pendidikan Pancasila, kebijakan publik yang berbasis nilai-nilai Pancasila, serta optimalisasi teknologi digital dalam penyebaran nilai kebangsaan menjadi strategi utama dalam menghadapi tantangan globalisasi. Kesimpulan penelitian ini menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memastikan Pancasila tetap relevan dan aplikatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>2025-03-07T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Putri Alisah Alisahhttps://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/article/view/309Memaknai Nilai-Nilai Desa Patoman Sebagai Desa Kebangsaan di Kabupaten Banyuwangi2024-11-26T20:54:39+08:00Safira Afifahsafiraafifah03@gmail.comAlisa Febiyantialisafebiyanti02@gmail.comSahru Romadlonisahru.romadloni@untag-banyuwangi.ac.id<p>Konsep desa kebangsaan telah menjadi sorotan dalam upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang menjadikan Desa Patoman sebagai salah satu desa kebangsaan di Indonesia. Dengan keragaman agama, etnis, dan budaya yang tinggi, Desa Patoman memiliki potensi besar sebagai model bagi desa-desa lain dalam mewujudkan keberagaman dalam bingkai persatuan. desa kebangsaan serta implikasi kebijakan yang diperlukan untuk mengembangkan desa-desa serupa. Adanya desa kebangsaan bukan sekedar suatu desa yang publikasikan, identifikasi munculnya desa patoman sebagai desa kebangsaan perlu dilakukan. Tentu hal ini menjadi penting sebagai referesi untuk mengatur desa yang memiliki ciri mengahargai keberagaman dan perbedaan untuk ditetapkan sebagai desa kebangsaan. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang karakteristik desa kebangsaan serta implikasi kebijakan yang diperlukan untuk mengembangkan desa-desa serupa.</p>2025-03-07T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Safira Afifah, Alisa Febiyanti, Sahru Romadlonihttps://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/article/view/479Klenteng Hoo Tong Bio Sebagai Simbol Pluralisme Agama dan Destinasi Wisata Sejarah di Banyuwangi2025-01-07T16:02:17+08:00Rizza Anandarizzananda29@gmail.comJeany Salsa Bellasalsajenni@gmail.comMahfud Mahfudmahfud@untag-banyuwangi.ac.id<p>Klenteng Hoo Tong Bio, sebagai salah satu bangunan bersejarah tertua di Banyuwangi menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai sejarah, makna, dan peran klenteng dalam konteks sosial, budaya, dan agama di Banyuwangi. Melalui penelitian ini juga, diharapkan Kelenteng Hoo Tong Bio tidak hanya akan dikenal sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol pluralisme agama dan destinasi wisata sejarah di Banyuwangi yang mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Melalui studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pihak terkait, penelitian ini menemukan bahwa Klenteng Hoo Tong Bio memiliki nilai sejarah yang tinggi, baik dari segi arsitektur, artefak, maupun kisah-kisah yang melekat padanya. Pendekatan penelitian ini kualitatif deskriptif dengan teknik pengambilam sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Klenteng Hoo Tong Bio memiliki potensi yang sangat baik sebagai simbol pluralisme agama dan destinasi wisata sejarah, ditandai dengan nilai sejarah yang tinggi dan keunikan arsitekturnya.</p>2025-03-07T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 rizza ananda, Jeany Salsa Bella, Mahfud Mahfudhttps://jurnal.untag-banyuwangi.ac.id/index.php/wasbang/article/view/367Pancasila dalam Pandangan Generasi Z : Esensi dan Implementasi Nilai-Nilai Dasar Negara di Era Digital2024-12-09T02:21:32+08:00Anjarika Dwi Rahmawati221610101117@mail.unej.ac.id<p>Pancasila merupakan dasar negara yang berperan sebagai ideologi negara yang telah menjadi pokok dan aturan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara serta berperan penting dalam membentuk karakter bangsa. Namun, dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, terutama di era digital, tantangan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila menjadi semakin kompleks. Generasi Z memiliki pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap Pancasila dibandingkan generasi sebelumnya. Artikel ini bertujuan untuk menggali pemahaman dan implementasi nilai-nilai Pancasila di kalangan Generasi Z di era digital. Penelitian ini menggunakan penilitian kualitatif dengan metode pengumpulan data sekunder berupa jurnal dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan Pancasila, Generasi Z, serta perkembangan teknologi digital melalui database akademik seperti Google Scholar, DOAJ dan Scopus. Dari data tersebut diperoleh kesimpulan Generasi Z memiliki potensi untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di era digital, meskipun menghadapi tantangan terkait polarisasi sosial dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi.</p>2025-03-07T00:00:00+08:00Copyright (c) 2025 Anjarika Dwi Rahmawati